Sejarah Dari Perayaan Galungan Dan Kuningan

HINDUALUKTA-- Sejarah hari raya Galungan berasal dari kepercayaan Hindu di Bali. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, hari raya Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804. Lontar tersebut berbunyi:

“Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.” 

Artinya: 

Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis. 

Secara filosofis, Hari Raya Galungan dimaksudkan agar umat Hindu mampu membedakan dorongan hidup antara adharma dan budhi atma (dharma = kebenaran) di dalam diri manusia itu sendiri. Kebahagiaan bisa diraih tatkala memiliki kemampuan untuk menguasai kebenaran.

Dilihat dari sisi upacara, adalah sebagai momen umat Hindu untuk mengingatkan baik secara spiritual maupun ritual agar selalu melawan adharma dan menegakkan dharma. Bisa disimpulkan bahwa inti Galungan ialah menyatukan kekuatan rohani agar umat Hindu mendapat pendirian serta pikiran yang terang, yang merupakan wujud dharma dalam diri manusia.

Munculnya perayaan hari raya galungan ini dikisahkan seorang asura bernama Mayadenawa adalah bakta Siva yang sangat tekun, dengan memuja Siva, ia memohon kekuatan agar mampu melakukan perubahan wujud. Dewa Siva berkenan muncul dan mengabulkan keinginannya. 

Pada akhirnya Mayadenawa menjadi sangat sakti dan mampu melakukan perubahan wujud hingga seribu kali perubahan. Dengan kemampuan itulah raksasa ini menjadi sombong dan menguasai daerah Bali dan sekitarnya, saat itu tidak ada yang mampu untuk mengalahkanya. Ahirnya Dewa Indra turun ke bumi dan melakukan pertarungan dengan Mayadenawa. 

Pertarungan berlangsung sengit hingga membuat Dewa Indra mengeluarkan bajra. Singkat cerita raksasa Mayadenawa akhirnya gugur dalam pertarungan tersebut. Kemenangan Dewa Indra melawan raksasa Mayadenawa inilah yang dikenal sebagai Hari Raya Galungan. Sehingga pada hakikat Galungan adalah perayaan menangnya dharma melawan adharma.

Perayaan hari raya galungan terus diperingati oleh para raja-raja pada jaman dahulu kalah. Namun seiring dengan pergantian raja-raja baru, hari raya galungan kemudian terlupakan dana berdampak pada umur raja yang terlalu pendek dan masyarakatnya sehingga dikisahkan kembali seorang raja yang benama Sri Dalem Wira Kesari (Sri Kesari Warmadewa) dan bangkit pada kerajaan Sri Jaya Kesunu.

Bangkitnya Galungan dalam Raja Sri Jaya Kesunu

Dikisahkan pada jaman silam ada seorang raja bergelar Sri Dalem Wira Kesari (Sri Kesari Warmadewa) berstana di lambung Gunung Tolangkir (gunung Agung). Amat berwibawa, beliau adalah cikal bakal raja utama yang berbudi luhur bagaikan Sanghyang Jina menjelma. Taat melaksanakan tapa brata samadi. Keratonnya di Kahuripan, Selonding pura pemujaan beliau, sehingga beliau terkenal bergelar Dalem Slonding. Beliau juga pendiri Sad Kayangan di Bangsul (Bali), aman dan tentram kerajaan beliau, para bawahan dan rakyat semuanya taat kepada raja. Tidak panjang diceritakan, setelah itu bertahta pula raja Bali berganti-ganti mengendalikan pemerintahan. Putra, cucu, kumpi (cicit) secara bergantian bertahta di Singhadwala.

Setelah sekian lama berselang, kemudian dikisahkan bertahta seorang raja besar keturunan Warmadewa (raja Selonding) yang bergelar Sri Udayana. Kembali aman dan tertib nusa Bali, tak ada kejahatan, hanya kebenaran yang ada, terpengaruh oleh Dharma sang raja. Beliau memiliki istri atau permaisuri yakni Dyah Gunapria Darmapatni. Beliau dicintai rakyat karena cantik pintar dan bijaksana. Beliau putri Jawa keturunan Danghyang Mpu Sindok.

Adapun ketika beliau bertahta sebagai raja, didampingi oleh seorang Mpu yang agung bernama Mpu Kuturan. Mpu Kuturan dari Jawa ke Bali dilukiskan berlayar menggunakan daun Kiambang (kapu-kapu) sebagai perahunya dan daun Benda (tehep) sebagai layarnya. Mendarat di pesisir Teluk Padang, pada hari Buda Kliwon Pahang, tahun saka 923 (1001 Masehi). Beliau berpangkat Senapati, pemegang hukum dan tata pemerintahan raja (penasehat raja). Berkat beliau Mpu Kuturan, di pulau Bali ada Kayangan Tiga, Sad Kayangan, dengan pura Besakih sebagai kayangan tertinggi, tercantum dalam pusaka Purana Tattwa, Dewa Tattwa, Widisastra, dan Kusumadewa. Demikian diceritakan.

Diceritakan kemudian raja Sri Udayana memiliki seorang putra sulung yang bernama Sri Erlangga yang sedang remaja. Prabu Sri Erlangga diundang ke Jawa oleh Maharaja Jawa yakni Sri Darmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa, dengan tujuan untuk dinikahkan dengan putri beliau. Sri Erlanga kemudian pergi dengan senang hati ke tanah Jawa diringi oleh Ki Patih Twa yang bernama Narottama sebagai pengawal. Diceritakan kemudian terjadilah pernikahan di Jawa dan Sri Erlangga dinobatkan menjadi raja dan beliau kemudian menjadi raja besar di Jawa. Dikisahkan pula beliau memiliki putra dua orang, dimana kedua putra tersebut saling bertengkar tak henti-hentinya. Ada maksud dari raja Sri Erlangga untuk mendudukkan salah satu putra beliau di Bali untuk menjadi raja. Namun kehendak tersebut ditolak oleh penasehat raja Mpu Kuturan karena pertimbangan beliau bahwa di tanah Bali masih ada seorang putra mahkota pewaris tahta kerajaan yakni Sang Walaprabu. Demikian diceritakan secara singkat.

Diceritakan kemudian Sri Walaprabu memegang tampuk kekuasaan di tanah Bali. Kemudian lama kelamaan silih berganti menjadi raja di Bali. Sang Walaprabu digantikan oleh putra beliau yang bernam Sri Nari Prabu. Sri Nari Prabu kemudian digantikan oleh putra beliau Sri Jaya Sakti. Putra Sri Jaya Sakti yakni Sri Jaya Kesunu tidak berkenan menjadi raja, karena menurut penilaian Sri Jaya Kesunu bahwa siapa yang menduduki tahta kerajaan maka ia pendek umur. Hanya memegang kekuasaan setahun, dua tahun, kemudian wafat sampai dengan putra-putranya. Demikian pula dengan tumbuhan serempak mati dan layu, tanaman diserang hama dan binatang, wabah penyakit menular tak henti-hentinya, banyak penduduk yang meninggal. Hasil panen gagal dan rakyat menjadi melarat di seluruh Bali. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran dari Sri Jaya Kesunu mengapa beliau tidak berkehendak menjadi raja.

Ketika itu Sri Jaya Kesunu hanya berpikir tentang kondisi kerajaannya yang mengalami kegeringan, sehingga Sri Jaya Kesunu ingin mendapatkan jawaban dari semua keadaan tersebut. Beliau kemudian memutuskan untuk melakukan tapa brata yoga samadi memuja Betari Hyang Nini (Dewi Durga) pada tengah malam di Pura Dalem Kedewatan (Pura Dalem Puri).

Setelah melakukan penunggalan bayu, sabda idep, melakukan yoga samadi memohon kehadiran Ida Hyang Betari Nini, maka Ida Betari kemudian berkenan dan muncul di hadapan Sri Jaya Kesunu. Ida Betari Durga bersabda ” Hai anaku Sri Jaya Kesunu, apa maksudmu datang menghadap Ibu? Katakanlah!

Sri Jaya Kesunu menjawab “Hyang mulia Ida Betari Durga, hamba memohon wahyu dan restu agar panjang usia. Yang bertahta menjadi raja, hidarkan dari kematian agar panjang usia rakyat semua, agar negara aman sentosa”.

Ida Hyang Betari bersabda “wahai anakku Jaya Kesunu, dengarkan sabdaku kepadamu. Satu sebab mengapa raja-raja Bali tidak lanjut/panjang usia, karena tiap-tiap tiganing Dungulan tidak membuat upacara byakala, menyimpang dari tata terdahulu. Itulah sebabnya setiap yang bertahta menjadi raja belum dua tahun telah wafat, sampai dengan sebagian besar rakyatnya. Mereka dijatuhi hukuman kematian oleh para dewata, sebab tempat suci kayangan, kabuyutan serta pemujaan lainnya semua telah rusak, tidak dipelihara seperti semula terdahulu. Mengakibatkan kehancuran negara, penyakit dan binatang menyebar dan memakan, sebab tak ada kesujudan manusia kepada dewa-dewa, juga tak ada yang melakukan tapa, brata, semadi, tak ada yang berlaku tertib, tak ada yang berniatkan dharma dan kebaikan. 

Kenyataan tersebut menimbulkan percekcokan menyebar luas, maka setiap menjelang kala tiga, matilah ia. Sebab noda dari badan kasarnya meresap sampai ke hati nuraninya. Kini bila anaknda ingin menjadi raja, anaknda juga harus wajib menjaga peraturan (sasana), anaknda wajib memelihara kayangan dan kabuyutan, serta tempat-tempat pemujaan, anaknda agar tetap sujud bhakti, dan beryoga semadi memuja Tuhan Yang Maha Esa. Tiap-tiap Kala Teluning Dungulan pada hari selasa Wage, pada saat itu anaknda harus melakukan korban Byakala, juga seluruh rakyatmu, seluruh penduduk Bali bergembira ria berpesta di rumah masing-masing, membuat sesajen untuk para dewa-dewa, mendirikan penjor di setiap pintu pekarangan rumah, agar sesuai dengan tata cara masa silam”. Demikian sabda Ida Hyang Betari Nini keada Sri Jaya Kesunu.

Sri Jaya Kesunu berhatur “daulat paduka Hyang Betari Nini, hamba sangat berterimakasih.

Setelah itu raja Sri Jaya Kesunu memerintahkan kepada seluruh rakyatnya untuk memperbaiki perahyangan, memerlihara sad kahyangan, kahyangan tiga, sampai dengan kabuyutan, dan menyelenggarakan upacara yadnya untuk bumi seperti dahulu kala ketika leluhur beliau memerintah pulau Bali terdauhulu yang menyebabkan negara aman dan tentram, terhindar dari penyakit serta bahaya yang menyulitkan.

Diceritakan kemudian Sri Jaya Kesunu tiba saatnya untuk kembali ke Wisnuloka, kerajaan kemudian diwariskan kepada putra beliau yakni Sri Jaya Pangus. Beliau kemudian memindahkan kerajaan ke Bedahulu. Aci-aci sad kayangan dan Besakih terus dilanjutkan sampai dengan yadnya pembersihan bumi. Juga diselenggarakan upacara Tawur Eka Dasa Rudra, yang disaksikan oleh tujuh Empu bersaudara yakni Mpu Ketek, Mpu Kananda. Mpu Wradnyana. Mpu Witadharma, Mpu Ragarunting, Mpu Prateka, dan Mpu Dangka. (Ki Buyut).

CONTACT US


Agrowisata : Agrowisata UsadhaPuri Damai, Br.Tunon Desa Singakerta, Ubud Bali
Office : Jl. Teuku Umar 200, Pertokoan Agung Raya No.Blok 14, Bali 80113.
081 236 711 696 atau 0361 474 92 40
taruberig@gmail.com
D72AC782
taruberig2 atau @htj9324l

by webbaliseo